PALI — Penyaluran bantuan pangan beras Bulog di Desa Air Itam Timur, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menuai sorotan tajam. Persoalan ketepatan sasaran penerima kembali dipertanyakan setelah puluhan penerima tidak mendapatkan bantuan, sementara ratusan karung beras masih tersisa.
Dari total 397 penerima, sebanyak 61 penerima disebut belum tersalurkan. Di sisi lain, terdapat 183 karung beras yang tersisa dan berdasarkan informasi warga akan dijemput oleh pihak Bulog.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya Berita Acara Serah Terima Pengembalian/Retur Bantuan Pangan Beras Alokasi Juli–September 2026. Dokumen tersebut mencatat adanya pengembalian beras karena bantuan pangan tidak tersalurkan.
Persoalan ini semakin menjadi perhatian karena warga mempertanyakan akurasi data penerima berdasarkan desil. Menurut keterangan salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, terdapat warga yang dinilai layak menerima bantuan justru tidak mendapatkan, sementara warga yang kondisi ekonominya dinilai lebih mampu masih tercatat sebagai penerima.
> “Kami sangat kecewa. Yang benar-benar layak menerima justru tidak dapat. Sementara ada yang menurut kami ekonominya lebih baik malah masuk penerima bantuan,” ungkapnya.
Warga menilai persoalan tersebut tidak semestinya hanya dilihat sebagai masalah beras yang tidak tersalurkan. Data penerima bantuan juga harus dipertanyakan dan dievaluasi, sebab kesalahan atau ketidaktepatan data dapat berdampak langsung kepada masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan.
Warga berharap dinas terkait segera melakukan verifikasi lapangan dan revisi data desil penerima, bukan sekadar menunggu bantuan kembali tersisa.
“Kalau memang datanya tidak sesuai, tolong diperbaiki. Yang layak menerima harus dimasukkan, dan yang sudah tidak memenuhi kriteria jangan lagi menerima. Jangan sampai bantuan untuk masyarakat miskin justru tidak sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan,” tegasnya.
Situasi ini dinilai semakin memprihatinkan karena 61 penerima belum mendapatkan bantuan, sementara 183 karung beras tersisa dan harus dikembalikan kepada Bulog.
Pertanyaan besarnya kini bukan hanya mengapa beras tersebut tersisa, tetapi mengapa data penerima belum mampu memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.
Warga pun berharap pihak dinas terkait memberikan penjelasan mengenai dasar penetapan penerima, data desil yang digunakan, serta langkah konkret untuk memperbaiki data penerima pada penyaluran berikutnya.













