Kabar yang disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, membuat banyak kalangan waswas. Di hadapan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Andi Gani mengungkap adanya potensi 55.000 buruh kehilangan pekerjaan dalam waktu maksimal 10 hari ke depan. Ia menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Ancaman itu berasal dari rencana penutupan dua pabrik di Bekasi, Jawa Barat, yang selama ini menjadi tempat bekerja ribuan anggota KSPSI. Salah satunya merupakan perusahaan produsen keramik yang mengalami tekanan berat akibat melonjaknya biaya energi. Kondisi ini dikhawatirkan memicu gelombang pengakhiran hubungan kerja yang lebih besar dan berdampak pada kehidupan puluhan ribu keluarga pekerja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya industri keramik, sektor tekstil juga disebut menghadapi tantangan serupa. Kenaikan biaya gas industri membuat beban produksi semakin berat sehingga mengancam keberlangsungan usaha. Andi Gani menegaskan bahwa hampir seluruh industri yang bergantung pada gas alam kini berada dalam posisi sulit. Jika tidak ada langkah cepat untuk menekan biaya energi, kekhawatiran terhadap bertambahnya jumlah pekerja yang terdampak diperkirakan akan semakin besar.
Aliansi Masyarakat Peduli Buruh Indonesia ( AMPIBI ) yang mana di Pengurusannya ada Johan Merdeka, Rahmat, Izhar Daulay, Pingki dan Awaluddin Pane sejak Januari 2026 sampai Juni 2026 dalam 6 ( enam ) bulan PHK di Sumatera Utara sudah cukup banyak.
Awaluddin Pane menjelaskan kepada Media Online “untuk kasus PKWT habis Kontrak nya dan Perusahan PHK karena Efesiensi sudah lebih 5 ( Lima ) ratus.”
Johan Merdeka disela sela kesibukannya masih peduli dengan Pekerja Buruh dan memberikan tanggapan sama dengan Awaluddin Pane ” benar kata Bang Awaluddin Pane PHK untuk di Sumatera Utara ini begitu cukup banyak . Bahkan yang sangat miris lagi gaji guru honorer masih di bawah Upah Minimun Propinsi.”
AMPIBI akan selalu membuat gebrakan dengan Aksi-aksi Jalanan jika Pemerintah tidak memperhatikan nasib Anak Bangsa khususnya Pekerja Buruh dan Guru honorer.
(Johan Merdeka)













